STRATEGI COPING STRESS
A. Pengertian Coping
Coping
berasal dari kata cope yang dapat diartikan menghadang, melawan ataupun
mengatasi. Kartono dan Gulo (dalam Sari dkk, 2010) mengartikan cope sebagai
menangani suatu masalah menurut suatu cara, seringkali dengan cara menghindari,
melarikan diri dari atau mengurangi kesulitan dan bahaya yang timbul. Coping
oleh Pramadi dan Lasmono (dalam Sari dkk) diartikan sebagai respons yang
bersifat perilaku psikologis untuk mengurangi tekanan dan sifatnya dinamis.
B.
Faktor yang Mempengaruhi Coping Stres
Menurut Santrock (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
coping stres yaitu:
1. Peristiwa hidup atau
kerumitan sehari-hari
Orang
yang mengalami perubahan hidup yang besar memperlihatkan insiden yanglebih
tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskuler dan kematian dini, dibandingkan
orang yang tidak mengalami perubahan hidup yang besar.
2. Faktor-Faktor Sosial
Budaya
a. Gender
Baru-baru
ini, Shelye Taylor dan rekannya menyatakan bahwa dibandingkan laki-laki,
perempuan cenderung kurang berespons terhadap situasi stres dan mengancam,
dengan cara hadapi-atau-lari (fight-or-fight). Dalam pengertian respons
menghadapi, agresi laki-laki diatur oleh hormone androgen seperti testosterone
dan berkaitan dengan reaktivitas sistem saraf simpatis dan permusuhan.
Sebaliknya agresi perempuan agaknya lebih berkaitan dengan otak, dipengaruhi
oleh situasi sosial, belajar, budaya dan situasi.
b. Stress
Akulturatif
Pindah
ke suatu tempat yang baru dan belum pernah ke tempat itu sebelumnya memang
sesuatu yang membuat stres. Pengalaman ini dapat memperparah stres yang lebih
besar jika seseorang berasal dari sebuah budaya pindah ke budaya yang berbeda.
Stres alkulturatif merujuk pada konsekuensi negative yang disebabkan oleh
hubungan antara dua kelompok budaya yang berbeda.
c. Kemiskinan
Kemiskinan dapat
mengakibatkan stres bagi individu dan keluarga. Kondisi kronis seperti rumah
yang tidak memadai lingkungan rumah yang berbahaya, tanggung jawab yang
membebani dan ketidakpastian ekonomi merupakan stresor yang besar dalam
kehidupan orang-orang miskin.
C.
Strategi Coping Stres
Menurut Lazarus dan Folkman, ada 2
jenis strategi coping, yaitu:
1. Problem-Solving
Focused Coping
Dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah
untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres, dan dipaparkan
para ahli bahwa aspek-aspek yang digunakan individu di bagi menjadi lima,
sebagai berikut:
a.
Planfull problem solving
individu memikirkan dan mempertimbangkan secara matang beberapa
alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan, meminta pendapat dan
pandangan dari orang lain tentang masalah yang dihadapi, bersikap
hati-hati sebelum memutuskan sesuatu dan mengevaluasi strategi yang pernah
dilakukan.
b.
Direct
action
Meliputi
tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta
menyusun secara lengkap apa yang diperlukan.
c. Assistance seeking
Individu
mencari dukungan dan menggunakan bantuan dari orang lain berupa nasehat
maupun tindakan didalam menghadapi masalahnya.
d. Information seeking
Individu
mencari informasi dari orang lain yang dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan individu tersebut.
2.
Emotion-Focused
Coping
Menurut
Lazarus dan Folkman (dalam Atkinson dkk, 2001) Emotion focus coping
diartikan sebagai coping yang digunakan individu dengan memfokuskan pada usaha
untuk menghilangkan emosi yang berhubungan dengan situasi stres, walaupun
situasinya sendiri tidak dapat diubah. emotion focus coping juga
dapat diartikan sebagai upaya untuk mencari dan memperoleh rasa nyaman dan
memperkecil tekanan yang dirasakan, yang diarahkan untuk mengubah faktor dalam
diri sendiri dalam cara memandang atau mengartikan situasi lingkungan, yang
memerlukan adaptasi yang disebut pula perubahan internal. Emotion focus
coping berusaha untuk mengurangi, meniadakan tekanan, untuk
mengurangi beban pikiran individu, tetapi tidak pada kesulitan yang sebenarnya
(Lazarus dalam Effendi, 1999).
Selain
itu Emotion focus coping merupakan suatu usaha untuk mengurangi
atau mengatur emotional distres yang berhubungan (atau disebabkan) keadaan
seseorang (Carver dkk, 1989). Tipe coping ini menonjol ketika seseorang merasa
bahwa dirinya harus bertahan dengan penyebab stres. Hal ini digunakan untuk
mencegah emosi negative timbul menguasai dirinya. Emotion focus
coping banyak digunakan oleh subjek yang memiliki usia berkisar
antara 17 sampai 20 tahun karena mereka belum mencapai tahap perkembangan yang
matang untuk bisa menggunakan problem focus coping (Tanumijojo,
2004).
Menurut
pramadi (2003) Emotion focus coping merupakan respon yang
mengendalikan penyebab stres yang berhubungan dengan emosi dan usaha memelihara
keseimbangan emosi yang efektif. Sedangkan Emotion focus coping
menurut Hapsari (2002) diartikan sebagai pelarian dari masalah yaitu individu
menghindari masalah dengan cara berkhayal atau membayangkan seandainya dia
berada pada situasi yang menyenangkan. Emotion focus coping digunakan
individu untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan ini melalui
perilaku individu untuk meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan melalui
strategi kognitif. Hasil penelitian Folkman dan Lazarus (dalam Widiyanti,
2001), subjek akan cenderung menggunakan strategi yang berorientasi pada emosi
(Emotion focus coping ) bila menilai masalah tersebut diluar kendalinya.
Berdasarkan
uraian diatas dapat dimaknai bahwa Emotion focus coping adalah
usaha untuk memperoleh rasa nyaman yang dilakukan oleh individu dengan
melakukan pengaturan respon emosional terhadap stres. Emotion focus
coping digunakan ketika individu menilai bahwa masalah yang
dihadapinya tidak dapat dikendalikan atau merasa sumberdayanya tidak cukup atau
tidak mampu untuk mengubah kondisi yang stresful.
Folkman dan Lazarus (1984) mengidentifikasikan beberapa aspek Emotion focus coping yang didapat dari penelitian-penelitiannya. Aspek-aspke tersebut adalah:
a. Self Control
Merupakan
suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara mengendalikan dri, menahan
diri, mengatur perasaan, maksudnya selalu teliti dan tidak tergesa dalam
mengambil tindakan.
b. Seeking Social
Support (For Emotional Reason)
Adalah
suatu cara yang dilakukan individu dalam menghadap masalahnya dengan cara
mencari dukungan sosial pada keluarga atau lingkungan sekitar, bisa berupa
simpati dan perhatian.
c. Positive
Reinterpretation
Respon
dari suatu individu dengan cara merubah dan mengembangkan dalam
kepribadiannya, atau mencoba mengambil pandangan positif dari sebuah masalah
(hikmah).
d. Acceptance
Berserah
diri, individu menerima apa yang terjadi padanya atau pasrah, karena dia sudah
beranggapan tiada hal yang bisa dilakukannya lagi untuk memecahkan masalahnya.
e. Denial (avoidance)
Pengingkaran,
suatu cara individu dengan berusaha menyanggah dan mengingkari dan melupakan
masalah-masalah yang ada pada dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Nevid J.S; Rathus S.A; Greene B .2003. Psikologi Abnormal. Jilid 1. Alih bahasa Tim Fakultas Psikologi UI.Jakarta: Erlangga
Chaplin J.P.2006. Kamus Lengkap Psikologi.penerjemah Kartini
Kartono.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Coyne, J., Aldwin, C., & Lazarus, R. 1981. Depression and
Coping In Stresfull Episodes. Journal of Abnormal Psychology. Vol. 50, No. 2,
234-254.
Folkman, S. & Lazarus, R.S. 1985. If it Changes it Must be a
Process: A Study of Emotion and Coping During Three Stages of a College
Examination. Journal of Personality and Social Psychology. No. 48, 150-170.
Folkman, S. 1984. Personal Control and Stres and Coping Processes:
a Theoritical Analysis. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 46,
No. 40, 839-858.
Folkman, S., Lazarus, R.S., Gruen, R.J., & Logis, A. 1986.
Appraisal, Coping, Health Status, and Psychological Symptoms. Journal of
Personality and Social Psychology. Vol. 50, No. 3, 571-579.
“Strategi Coping”
“Strategi Coping”
Komentar
Posting Komentar